Nyapet Sawa’ dan Empara Dio: Merayakan Akhir Tahun dalam Tradisi Dayak Taba

Kalbar Informasi. Di dalam kebudayaan Sub Suku Dayak Taba, terdapat sebuah tradisi penting yang dikenal sebagai Nyapet Sawa’. Nyapet secara leksikal berarti ‘tutup’ atau ‘penutupan’, dan juga bisa diartikan sebagai ‘membatasi’ atau ‘membuat batas’. Sementara itu, Sawa’ berarti ‘tahun’. Oleh karena itu, secara harfiah, Nyapet Sawa’ dapat diartikan sebagai ‘Tutup Tahun’.

Namun, Nyapet Sawa’ memiliki makna yang lebih dalam dan spesifik dalam konteks kehidupan masyarakat Dayak Taba. Tradisi ini lebih dikenal dengan istilah Empara Dio, yang secara harfiah berarti ‘Memberi Makan Rumah Penyimpan Padi’. Dalam bahasa Dayak Taba, Empara berarti ‘menyajikan’, ‘menjamu’, atau ‘memberi makan’, sementara Dio merujuk pada ‘rumah padi’ atau ‘jurung’. Empara Dio adalah sebuah upacara syukuran yang diadakan untuk menandai akhir tahun panen padi dan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang telah diperoleh.

Susana Ritual

Empara Dio: Upacara Syukuran Akhir Tahun

Empara Dio merupakan momen penting dalam siklus tahunan masyarakat Dayak Taba. Setelah musim panen selesai, masyarakat berkumpul untuk menyelenggarakan upacara ini sebagai tanda syukur kepada Tuhan dan leluhur atas hasil panen yang melimpah. Dalam acara ini, semua alat-alat pertanian, seperti cangkul, parang, dan peralatan lainnya, diberkati dan diberi sesajian. Hal ini dilakukan dengan harapan agar alat-alat tersebut dapat digunakan kembali di musim tanam berikutnya dengan lebih baik dan menghasilkan panen yang lebih baik pula.

Prosesi Empara Dio tidak hanya melibatkan pemberian sesajian, tetapi juga berbagai ritual dan doa yang dipimpin oleh tetua adat atau pemuka masyarakat. Mereka memohon keberkahan dan perlindungan untuk musim tanam yang akan datang. Selain itu, upacara ini juga menjadi ajang berkumpul dan mempererat tali silaturahmi antaranggota komunitas.

Acara Nyapet Sawa” di Desa Sungai Jaman Kecamatan Tayan Hilir Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat

Memulai Siklus Baru: Membuat Latang

Setelah upacara Empara Dio selesai, masyarakat Dayak Taba memulai kembali siklus pertanian mereka dengan membuat latang, yaitu lahan pertanian baru. Proses ini dimulai dengan mencari lokasi yang cocok untuk dijadikan ladang, dilanjutkan dengan kegiatan menebas, membakar lahan, menanam, dan akhirnya memanen padi. Siklus ini mencerminkan ritme kehidupan masyarakat Dayak Taba yang sangat bergantung pada alam dan pertanian.

Makna Nyapet Sawa’ dan Empara Dio

Nyapet Sawa’ dan Empara Dio merupakan dua konsep yang saling berkaitan dan menjadi satu kesatuan yang utuh dalam tradisi Dayak Taba. Nyapet Sawa’ menandakan penutupan tahun dan batas akhir siklus pertanian, sedangkan Empara Dio adalah wujud syukur dan persiapan untuk memulai siklus baru. Melalui kedua tradisi ini, masyarakat Dayak Taba tidak hanya menunjukkan rasa syukur mereka atas panen yang diperoleh, tetapi juga memperkuat hubungan mereka dengan alam, leluhur, dan sesama anggota komunitas.

Tempt untuk Empara DIO

Dengan memahami Nyapet Sawa’ dan Empara Dio, kita dapat lebih menghargai kebudayaan dan tradisi yang kaya dari masyarakat Dayak Taba. Tradisi ini mengajarkan kita tentang pentingnya bersyukur, menjaga alam, dan menjalin hubungan yang harmonis dengan orang-orang di sekitar kita. Semoga tradisi ini terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang, sehingga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat Dayak Taba.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *